Kebiasaan Mencatat yang Membawa Berkah Bagi Tukang Bangunan

Karena jadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sekitar 3 tahun yang lalu saya sering didatangi oleh seorang teman satu SMA dulu. Saat itu ia kesulitan untuk mencari kerja pengganti karena berbagai keterbatasan, seperti umur yang sudah agak lewat, pendidikan yang tidak terlalu tinggi dan sebab-sebab lainnya. Akhirnya kami sering diskusi untuk mencarikan solusi dari masalahnya tersebut. Sebelumnya ia bekerja sebagai staf umum di sebuah perusahaan distributor, namun karena katanya perusahaan tersebut sedang ada masalah internal, makanya ia kena dampaknya. Tapi untung ia dapat pesangon yang lumayan cukup untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Namun setelah 3 bulan menganggur, ia mulai cemas dan makin sering, bahkan hampir tiap malam diskusi ke tempat tinggal saya.

Dari keterangannya, ia tidak terlalu mendapatkan keahlian yang spesifik di tempat kerja lamanya. Namun dari kecil ia sebenarnya sudah punya bakat turunan dari bapaknya, yaitu sebagai tukang bangunan yang juga sempat ia dalami selama 2 tahun semenjak lulus SMA. Dimana ia ikut bekerja dengan bapaknya dalam jasa membangun rumah warga, jasa renovasi bangunan dan pekerjaan sejenis lainnya.

Nah, kebetulan beberapa minggu kemudian setelah kami diskusi itu, rumah saudara saya ada atapnya yang bocor dan ada beberapa komponen bangunan yang harus diperbaiki. Maka saya menawarkan ke teman tersebut untuk diperbaiki atau di renovasi. Tanpa basa-basi teman ia menerima tawaran tersebut dan langsung mencari tukang pekerja untuk menemaninya. Bahkan dengan perkakas seadanya, ia bisa menyelesaikan renovasi rumah saudara saya itu dengan baik.

Semenjak itu, ada saja permintaan renovasi-renovasi kecil-kecilan dari beberapa orang yang ia kenal, maupun dari informasi tukang pekerja yang ia bawa sebelumnya. Bahkan ia sudah membeli perkakas yang lumayan lengkap. Sampai ia pernah mendapatkan tawaran untuk membangun rumah baru (rumah tipe sederhana) dari kenalannya.

Dalam kondisi itu, ia masih sering menyempatkan berdiskusi dengan saya, minimal seminggu 2 kali. Nah saat mendapatkan proyek membangun rumah baru itu, ia terlihat bingung dalam membuat gambar dan membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) nya. Kebetulan saya sedikit mengerti dan juga punya teman untuk bertanya tentang hal teknis tersebut, akhirnya selesai juga ia selesaikan RAB dan gambar serta nilai borongan dari rumah warga tersebut.

Dalam keadaan itu, sambil diskusi, secara tak sengaja saya menyarankan kepada dia agar selalu mencatat semua aktivitas dan rutinitas yang ia jalani. Ia pun mengikuti saran saya yang awalnya terasa sepele dan tidak penting. Bahkan saya meminjamkan kamera digital saya ke dia untuk mendokumentasikan setiap langkah dan bobot pekerjaan yang telah ia kerjakan di proyeknya tersebut. Suatu hari saya pernah iseng melihat isi tas yang selalu ia bawa, ternyata didalamnya ada beberapa buku besar dan buku kecil beserta alat tulis yang tersusun rapi, serta kamera yang saya pinjamkan.

Apa hikmah dari kegiatan pencatatan dan pendokumentasian dari aktivitasnya tersebut?

Ternyata secara tidak langsung ia telah merintis sebuah pembukuan dan manajemen usaha yang berawal dari nol. Berkat pencatatan dan pendokumentasian tersebut, ternyata sangat membantu memudahkan ia berkoordinasi dengan si pemberi pekerjaan atau pemilik rumah menyangkut perkembangan proyek. Dan juga memudahkan ia untuk mengkoordinir para pekerja yang ia bawa bekerja di proyeknya itu.

Tak hanya sampai disitu, ternyata kebiasaan mencatat dan mendokumentasikan kegiatan kerjanya tersebut, mampu menumbuhkan kepercayaan dari calon pelanggan lain kepada teman saya tersebut untuk mengerjakan proyek-proyek berikutnya. Hal itu katanya berkat pencatatan dan pendokumentasian yang ia jalani, yang disusun dalam sebuah alur yang menyerupai riwayat usaha (Company Profile) yang lengkap dengan foto-foto dan daftar-daftar harga bahan bangunan serta daftar nama pekerja yang ia rekrut di proyek sebelumnya, serta data-data lain yang berhubungan dengan bangunan. Padahal saat itu ia belum memiliki badan hukum seperti CV atau PT. Tapi cara-caranya sudah seperti manajemen perusahaan saja.

Setelah serah terima pekerjaan atau proyeknya itu selesai sekitar 2 tahun yang lalu, teman saya itu datang dengan membawa kamera digital model terbaru sebagai ganti dari kamera lama yang pernah saya pinjamkan ke dia. Dan saya pun dipaksa untuk menerimanya, padahal harganya jauh lebih mahal dari kamera yang saya pinjamkan ke dia. Dan sekarang (tahun ini) ia sudah punya badan hukum (CV) dan 1 mobil operasional yang lumayan sehat untuk mendukung pekerjaannya.

Dari uraian di atas, ada hikmah yang dapat dipetik. Kebiasaan atau rutinitas yang terlihat sepele seperti teman saya itu yang disiplin dalam mencatat dan mendokumentasikan setiap kegiatannya, ternyata sangat membantu dan membawa berkah di kemudian hari, karena kegiatan yang terlihat sepele tersebut, ternyata itulah manajemen (awal dari sebuah manajemen), sesuai dengan pengakuannya ke saya. Padahal awal merintis usaha jasa konstruksi yang awalnya kecil-kecilan tersebut, ia malah tidak punya modal uang.

Semoga hikmah dari uraian pengalaman ini, bermanfaat dan bisa menginspirasi, terutama bagi pemula wirausaha, pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) dan siapa saja.

 

 

 

Advertisements